Biru,
luas, tak berujung, dalam, tenggelam, gelap, dingin, jauh.
Melihat
dan mengenalnya, berbincang berlari menuju bulan. Tiap hal menjadi mendebarkan
dengannya. Tidak ada alasan untuk membencinya atau bahkan menghindarinya.
Tenang,
kataku, ombaknya.
Indah,
dimataku, dirinya.
Sejuk,
dihatiku, hadirnya.
Tidak
salah menjadi polos, tapi benar-benar polos adalah sebuah kenaifan. Kesalahan
terbesar yang pernah ku izinkan terjadi.
Tak
selamanya itu tenang, indah, dan menyejukkan.
Angin
datang, badai menghempas.
Amukan
airnya hebat membuat kakiku berlari terpogoh-pogoh menjauhi bibir pantai.
Deru
air dan angin membasahiku dan menamparku dengan kasar.
Kericuhannya
sama sekali tidak sejuk, tidak menyejukkan.
Mungkin
bila ku tak dapat berlari sekuat itu, tenggelam sudah aku terjerat keadaan.
Lalu
mereka masih bertanya, “Kamu masih suka dengannya?” dan aku terdiam sejenak.
Aku tahu persis jawabannya.
“Besok,
besok pasti lebih baik.” hatiku tidak akan pernah bisa menolaknya.