Wednesday, July 22, 2015

Laut


Biru, luas, tak berujung, dalam, tenggelam, gelap, dingin, jauh.
Melihat dan mengenalnya, berbincang berlari menuju bulan. Tiap hal menjadi mendebarkan dengannya. Tidak ada alasan untuk membencinya atau bahkan menghindarinya.

Tenang, kataku, ombaknya.
Indah, dimataku, dirinya.
Sejuk, dihatiku, hadirnya.

Tidak salah menjadi polos, tapi benar-benar polos adalah sebuah kenaifan. Kesalahan terbesar yang pernah ku izinkan terjadi.

Tak selamanya itu tenang, indah, dan menyejukkan.
Angin datang, badai menghempas.
Amukan airnya hebat membuat kakiku berlari terpogoh-pogoh menjauhi bibir pantai.
Deru air dan angin membasahiku dan menamparku dengan kasar.
Kericuhannya sama sekali tidak sejuk, tidak menyejukkan.
Mungkin bila ku tak dapat berlari sekuat itu, tenggelam sudah aku terjerat keadaan.

Lalu mereka masih bertanya, “Kamu masih suka dengannya?” dan aku terdiam sejenak. Aku tahu persis jawabannya.
“Besok, besok pasti lebih baik.” hatiku tidak akan pernah bisa menolaknya.

No comments:

Post a Comment